Belajar Ilmu Pengetahuan Alam

Pengertian dan Proses Pembentukan Tulang pada Manusia serta Hewan

Pengertian dan Proses Pembentukan Tulang pada Manusia serta Hewan – tulang merupakan jaringan ikat, yang tersusun atas sel dan substansi dasar. Tulang merupakan penyusun rangka dalam pada manusia dan hewan vertebrata. Terdapat dua jenis tulang yaitu tulang rawan dan tulang sejati. Keduanya berbeda dalam hal sel serta substansi dasarnya. Tulang rawan merupakan tulang utama penyusn rangka tubuh pada janin, dan akan menjadi tulang keras ketika dewasa. Pada masa dewasa, hanya bagian tertentu yang masih disokong oleh tulang rawan seperti daun telinga, tulang hidung, epiglotis, dan persendian. Pada manusia, tulang rawan terbentuk pada janin saat berusia 4 minggu atau satu bulan. Tulang belakang ialah tulang yang pertama kali terbentuk yang di dalamnya terdapat sistem saraf. Pembentukan tulang keras disebut dengan peristiwa osifikasi yaitu peristiwa pengapuuran pada tulang rawan. Tulang keras ialah tulang yang menyusun rangka pada sebagian besar tubuh hewan vertebrata dan manusia. Baiklah, kita akan segera mengetahui bagaimana proses pembentukan tulang pada vertebrata. 

Tulang merupakan jaringan ikat yang berkembang dari lapisan mesenkim. Pembentuka tulang pada manusia dan vertebrata lainnya dapat dibedakan menjadi dua tahap, yaitu:

1. Osifikasi Intramembran 


Pada osifikasi intramembran, tulang terbentuk langsung dari lapisan mesenkim. Proses pembentukan tulang ini terjadi pada pembentukan tulang tengkorak dan karapak penyu. Sel – sel dari lapisan mesenkim berdifferensiasi menjadi osteoblas yaitu sel induk sel tulang. Kemudian sel- sel osteoblas mensintesis matriks ekstraseluler berupa kolagen proteoglikan. Matriks ekstraseluler tersebut mampu mengikat ion kalsium melalui kalsifikasi.  Sel – sel osteoblas terjebak dalam matriks ekstraseluler yang mengeras. Osteoid adalah lapisan (selaput) yang memisahkan osteoblas dari matriks ekstraseluler. Osteoblas yang terjebak dalam matriks yang telah mengeras karena adanya kalsium menjadi osteosit, sementara osteoid disebut lakuna. Periosteum adalah selaput yang membungkus jaringan tulang yang merupakan jaringan ikat. Lapisan sebelah dalam bagian periosteum akan membentuk osteoblas dan menghasilkan osteoid untuk melanjutkan proses pembentukan tulang. 

Advertisement

2. Osifikasi Endokondral


Osifikasi endokondral ialah pembentukan tulang keras dari jaringan tulang rawan yang telah terbentuk terlebih dahulu. Tulang rawan ialah jaringan tulang yang pertama terbentuk dan menyokong tubuh embrio vertebrata. Tulang rawan tersusun atas sel kondroblas dengan matriks ekstraseluler kondrin yang mengandung beragam serabut serat. Tulang rawan bersifat lunak dan elastis, menyokong pergerakan hewan. Tulang rawan yang menyusun janin akan digantikan oleh tulang keras setelah kelahiran dan beberapa titik yang disusun tulang rawan akan dipertahankan sampai dewasa. 

Osifikasi endokondral terjadi dalam lima tahap, tahap pertama ialah terbentuknya prekursor tulang rawan (kartilago). Tahapan selanjutnya, sel – sel mesenkim berdifferensiasi menjadi sel kondrosit yaitu sel yang menyusun tulang rawan. Tahapan ketiga, sel – sel kondosit membelah secara mitosis. Pembelahan sel kondrosit terjadi sangat cepat membentuk massa sel kondosit. Sel – sel kondrosit mensintesis matriks ekstraseluler kartilago spesifik. Tahapan keempat, sel – sel kondrosit berbenti membelah dan meningkatkan volume selnya sehingga membentuk hyperthropic kondrosit. Massa sel kondrosit yang besar itu merubah matriks ekstraseluler dengan menambahkan serat kolagen dan senyawa fibronectin yang mudak mengikat kalsium karbonat untuk mengalami kalsifikasi. Tahapan terakhir ialah masuknya pembuluh darah ke bagian kartilago. Sel – sel hypertropic kondrosit mengalami kematian (apoptosis) sehingga akan terbentuk sumsum tulang. Hilangnya massa sel kartilago akan digantikan oleh sel – sel yang membungkus kartilago membentuk osteoblas, sel induk tulang keras. Kemudian osteoblas akan meneruskan pembentukan tulang sejati dengan alur seperti pembentukan intramembran osifikasi. Hampir semua tulang rawan pada janin akan digantikan menjadi tulang keras. Beberapa titik masih disokong oleh tulang rawan seperti daun telinga. Tulang rawan janin membantu proses kelahiran, bayangkan jika janin tersusun atas tulang keras maka akan sulit untuk keluar (kasus khusus pada mamalia).

Sumber:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK10056/
http://www.britannica.com/science/bone-formation

Share :

Facebook Twitter Google+
Back To Top