Belajar Ilmu Pengetahuan Alam

Bunyi Hukum Mendel 1 dan 2 Beserta Penjelasannya

Bunyi Hukum Mendel 1 dan 2 Beserta Penjelasannya – Gregor Mendel adalah seorang pemuka agama yang juga mendedikasikan hidupnya dalam perkembangan imu genetika, cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang pewarisan sifat. Mendel dikenal sebagai Bapak Genetika karena penelitian yang dilakukannya terhadap pola pewarisan sifat pada kacang ercis menjadi batu pertama dalam perkembangan ilmu genetika. Penemuan mendel pada eksperimennya menggunakan kacang ercis menemukan pola – pola hereditas dari induk ke keturunannya. Penggunaan kacang ercis sebagai sampel penelitian genetika didasarkan atas beberapa hal yang dimiliki oleh kacang ercis. Seperti masa hidup yang relatif pendek serta ditemukan beragam karakter pada spesies kacang ercis. Percobaan Mendel pada kacang ercis menghasilkan hukum (aturan) yang menjadi acuan dalam kombinasi genetik pada reproduksi seksual.

A.  HUKUM MENDEL I – SEGREGASI
Hukum Mendel I disebut hukum segregasi yaitu pemisahan gen dan alel pada saat pembentukan sel gamet. Persilangan merupakan perkembangbiakan secara seksual yang melibatkan sel gamet. Pada pembentukan sel gamet (gametogenesis) akan terjadi pengurangan (reduksi) jumlah kromosom sel anak yang terbentuk. Hal ini bertujuan untuk menjaga jumlah kromosom sel anak yang terbentuk saat fertilisasi. Kromosom akan berpisah dengan homolognya (pasangan) yang mana mengandung gen dan alel. Dengan demikian, pada saat pembentukan gamet akan terbentuk kromosom tunggal.

B.  HUKUM MENDEL II - ASORTASI
Jika Hukum Mendel I berbicara tentang perpisahan, hukum Mendel II akan terjadi penyatuan gen dan alel secara bebas. Asortasi ialah penggabungan gen dan alel yang mengatur suatu sifat tertentu. Pada saat fertilisasi akan terjadi peleburan (penyatuan) sel gamet yang mengandung gen – gen tunggal. Kemudian gen akan dipertemukan dengan alelnya sehinga mampu mengekspresikan sifat tertentu. Zigot yang terbentuk adalah hasil peleburan dua sel gamet (jantan dan betina) yang membawa masing – masing separuh kromosom. Sifat individu baru akan ditentukan oleh kombinasi gen – alel baru yang terbentu, mungkin akan sama dengan induk atau dapat berbeda.

C.  PENERAPAN HUKUM MENDEL
1.   Persilangan Monohibrid
Persilangan monohibrid ialah persilangan dengan hanya memperhatikan satu karakter pembeda pada objek penelitian. Mendel menyilangkan tanaman kacang ercis yang telah ditentukan karakter pembeda yang akan difokuskan pada persilangannya. Mendel menyilangkan tanaman tersebut sampai pada generasi kedua untuk mengetahui sifat dominasi atau intermediet dari persilangan yang dilakukan. Maka dari itu, ditemukan jenis persilangan intermediet dan dominan.

a.    Persilangan dominan
Pada persilangan dominan, Mendel menyilangkan tanaman kacang ercis bunga merah dengan putih. Warna merah diatur oleh gen M sementara putih diatur oleh gen m. Karena ini adalah persilangan dominan, maka persilangannya sebagai berikut:
Parental 1       :  Bunga merah (MM)      x           Bunga putih (mm)
Gamet           :           M                                                         m
Filial 1 :                       Bunga Merah  (Mm)
Parental 2       : Bunga Merah  (Mm)      x           Bunga Merah  (Mm)
Gamet           :           M, m
Filial 2            : Bunga Merah  (MM); 2 Bunga Merah  (Mm); Bunga putih (mm)

Perbandingan genotip pada persilangan monohibrid dominan ialah 1 MM: 2Mm: 1mm,  sementara perbandingan fenotipenya ialah 3 merah: 1 putih.

Advertisement
b.   Persilangan intermediet
Pada persilangan intermediet, keturunan akan mengikuti sifat kedua induk. Artinya, sifat campuran akan muncul hasil dari pencampuran dua gen yang berbeda. Dan untuk contoh persilangan intermediet, kita masih akan menggunakan contoh persilangan yang dilakukan oleh Mendel:

Parental 1       :  Bunga merah (MM)      x           Bunga putih (mm)
Gamet           :           M                                                         m
Filial 1 :           Bunga Merah  Muda (Mm) warna campuran (Intermediet)
Parental 2       : Bunga Merah  Muda (Mm) x Bunga Merah  Muda (Mm)
Gamet           :           M, m
Filial 2            : Bunga Merah (MM); 2 Bunga Merah Muda (Mm); Bunga putih                       (mm)

Dari hasil persilangan intermediet di atas, ditemukan sedikit perbedaan dengan persilangan monohibrid dominan. Perbandingan genotip pada persilangan monohibrid dominan ialah 1 MM: 2Mm: 1mm,  begitu juga perbandingan fenotipnya 1 merah: 2 Merah muda: dan 1 putih.

2.  Persilangan Dihibrid
Persilangan dihibrid ialah persilangan dua individu dengan memperhatikan dua karakter pembeda sebagai fokus penelitian. Mendel lebih lanjut mengamati sifat pembeda antar kacang ercis. Persilangan dihibrid merupakan asal terbentuknya hukum mendel yang kedua. Adapun persilangan yang dilakukan oleh mendel ialah warna polong dan bentuknya. Kacang ercis polong hijau keriput disilanngkan dengan kacang ercis kuning bulat. Warna hijau dominan terhadap kuning, sementara bentuk bulat lebih dominan terhadp keriput. Berikut alur persilangannya:
Parental 1 : Hijau Keriput (HHbb)     x           Kuning Bulat (hhBB)
Gamet                 :           Hb                                                        hB
Filial 1                  :           Hijau Bulat (HhBb)
Parental 2 : Hijau Bulat (HhBb)        x Hijau Bulat (HhBb)
Gamet                 : HB, Hb, hB, hb
Filial 2                  :
·         H_B_   = Hijau Bulat (9)
·         H_bb  = Hijau keriput (3)
·         hhB_  = kuning Bulat (3)
·         hhbb              = kuning keriput (1)

Dari persilangan dihidbrid tersebut diperoleh perbandingan fenotip 9:3:3:1. Persilangan filial pertama dengan sesamanya akan menghasilkan keturunan yang memiliki sifat yang sama dengan parental 1.

Share :

Facebook Twitter Google+
Back To Top