Belajar Ilmu Pengetahuan Alam

Pengertian dan Klasifikasi Archaebacteria Secara Lengkap

Pengertian dan Klasifikasi Archaebacteria – Berdasarkan sistem klasifikasi tiga domain menurut Carl Woese, makhluk hidup dibedakan menjadi tiga domain yaitu: Domain Bacteria, Archaebacteria, dan Eucaryota. Klasifikasi ini didasarkan atas struktur seluler dari ketiga kelompok tersebut. Domain Archaebacteria awalnya merupakan bagian dari kelompok monera yang merupakan kelompok organisme prokariotik. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi menemukan fakta bahwa kelompok Archaebacteria memiliki susunan struktur RNA ribosomal yang berbeda dengan bakteri pada umumnya, selain itu kelompok ini ditemukan pada tempat – tempat yang ekstrim yang menggambarkan kehidupan bumi jaman purbakala. Oleh karena itu, para ahli memisahkan organisme – organisme Monera menjadi dua golongan bacteria dan archaebacteria. 

A. PENGERTIAN ARCHAEBACTERIA


Istilah archaebacteria berasal dari bahasa yunani yaitu archaio yang berarti kuno. Hal ini dikarenakan kelompok bakteri ini merupakan prokariota yang paling primitif (kuno) dalam kelompok bakteri. Penyebutan kuno pada kelompok ini ialah dalam hal susunan RNA ribosomal yang dimiliki oleh kelompok ini. Klasifikasi ini merupakan berkat kemajuan teknologi sehingga para ahli taksonomi dapat menganalisa struktur molekuler organisme. Selain itu, kelompok archaebakteria ditemukan banyak menghuni habitat – habitat bumi purbakala yang kini merupakan lingkungan – lingkungan ekstreem di bumi. Archaebacteria adalah kelompok bakteri prokariot dengan RNA ribosomal yang berbeda dengan bakteri dari Domain Bacteria. Adapun ciri – ciri dari archaebacteria sekilas nampak sama dengan kelompok Domain Bacteria, antara lain:

1. Tipe Sel: Prokariotik

Archaebacteria merupakan bagian dari kingdom monera jika dalam sistem klasifikasi lima kingdom. Archae memiliki ciri dasar kelompok kingdom monera yaitu memiliki tipe sel prokariotik, artinya sel yang tidak memiliki inti sel. Hal ini dikarenakan tidak adanya membran inti yang membungkung materi genetik bakteri (DNA). Dengan demikian, DNA terkumpar di dalam sitoplasma.

2. Dinding Sel

Dinding sel archaebacter tersusun atas bukan senyawa peptidoglikan yaitu karbohidrat kompleks yang menyusun kelompok/domain Bacteria. Dengan demikian, archae memiliki struktur dinding sel yang berbeda dengan domain bacteria. Dinding sel Archaebacter tersusun atas senyawa glikoprotein, polisakarida, dan protein. 

3. Tidak Memiliki Organel Bermembran

Ketiadaan membran inti membuat organel – organel bermembran seperti RE, Mitokondria, Kloroplas, Badan Golgi, Lisosom, Vakuola, dan peroksisom pun tidak dimiliki oleh Archae.

4. Habitat: Wilayah ekstreem Bumi / Lingkungan purbakala

Penamaan archae (kuno) pada domain ini didasarkan pada habitat kelompok ini yang menghuni wilayah – wilayah ekstreem di muka Bumi. Tempat – tempat ini merupakan gambaran bumi purbakala. Archaebacter dapat ditemukan di wilayah dengan kadar garam yang sangat tinggi (halofil ekstreem), atau di suatu wilayah dengan suhu sangat tinggi (termofil ekstreem), atau ditemukan di suatu wilayah dengan tanpa oksigen melainkan dengan metana (metanogen). 

5. Cara makan: Kemoautotrof

Kelompok archaebacteria hidup di tempat yang sangat ekstreem, dimana sebagian organisme tidak mampu mentolerir wilayah tersebut. Meski demikian, archaebacter sukses beradaptasi dengan lingkungan demikian. Kebutuhan akan nutrisi diperolehnya dengan membuat makanannya sendiri menggunakan senyawa kimia dari lingkungannya sebagai prekursor untuk menghasilkan energi. Metabolisme yang berlangsung terjadi secara anaerob (mengingat di wilayah ekstreem tidak ada kadar oksigen). 

Advertisement

B. KLASIFIKASI ARCHAEBACTERIA


1. Metanogen

Kelompok ini merupakan archaebacter yang menghasilkan gas metana (CH4) dari hasil reduksi karbondioksida. Metanogen hidup di tempat dimana tidak terdapat gas oksigen yaitu di dasar lumpur atau dapat mengadakan simbiosis dengan hewan – hewan herbivora (sapi, rayap). Metanogen sangat tidak dapat mentolerir keberadaan oksigen. Organisme ini akan mati jika di habitatnya terdapat oksigen, meski hanya sedikit. Lingkungan anaerob obligat adalah syarat penting bagi kelompok metanogen. Kemampuannya menghasilkan metana, bakteri ini sering dimanfaatkan dalam pembuatan atau penguraian kotoran atau sampah untuk menghasilkan metana. Adapun ciri – ciri metanogen ialah:

a. Anaerob obligat 
Biasa ditemukan di dasar rawa atau di dalam perut hewan herbivora. Akan mati jika terdapat oksigen.

b. Menghasilkan metana (CH4)
Metana merupakan senyawa buangan dari metabolisme karbondioksida menjadi makanan. Metana buangan archaebacteria dapat dimanfaatkan sebagai bahan bahar (Biogas). 

c. Berperan sebagai pengurai atau pembusuk

2. Halofil extreem

Kelompok ini merupakan penghuni wilayah lautan dengan kadar garam yang sangat tinggi seperti laut mati, Great Salt Lake (Bahasa Yunani, halo= garam; philos= penyuka). Beberapa spesies kelompok ini memiliki pigmen merah orodopsin. Sehingga koloni kelompok ini terlihat seperti buih yang berwarna merah keunguan. Berbeda dengan methanogen, kelompok halofil memerlukan oksigen untuk respirasi. Sementara kecukupan nutrisi diperoleh dengan melakukan fotosintesis dengan pigmen merah yang dimilikinya. Ciri – ciri halofil:

a. Habitat: perairan dengan kadar garam tinggi
b. Aerobik dan fotosintetik

3. Termofil extreem

Termofil berasal dari Bahasa Yunani, termo artinya panas, sementara phylos artinya ialah penyuka. Archae jenis ini dapat ditemukan di wilayah – wilayah terpanas bumi, dengan suhu optimum antara 60°C sampai 80°C. Kelompok Sulfolobus (bakteri Sulfur) misalnya ditemukan pada sumber mata air panas yang banyak mengandung sulfur atau di lereng gunung berapi dengan suhu optimum mencapai 105°C. Kelompok ini memiliki DNA dengan komposisi pasangan basa nitrogen sitosin – guanin yang banyak, sehingga tahan panas. Kelompok ini merupakan kemoautotrof. Ciri umum termofil ialah:

a. Hidup di wilayah dengan suhu diatas 60°C
b. Kemoautotrof

Share :

Facebook Twitter Google+
Back To Top