Belajar Ilmu Pengetahuan Alam

Proses Perkembangan Embrio pada Manusia

Proses Perkembangan Embrio pada Manusia – Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna baik dalam sisi agama maupun science. Tingkat kekompleksan tubuh manusia adalah yang tertinggi diantara organisme lainnya. Meski demikian, tahap pertumbuhan dan perkembangan manusia sama seperti kelompok hewan lainnya terutama dari bangsa Hominidae. Tahap pertumbuhan dan perkembangan manusia semua berawal dari satu “titik” zigot yang merupakan hasil penyatuan dua inti sel gamet, sperma dan ovum. Selanjutnya zigot ini bertumbuh dan berkembang menjadi embrio, semacam bahan yang siap menjadi manusia mini, janin dan siap untuk menantang dunia. Proses perkembangan embrio pada manusia, seutuhnya terjadi di dalam tubuh induk betina. Manusia merupakan organisme vivipar yaitu melahirkan. Proses embriogenesis yang berlangsung di dalam tubuh induk ini memerlukan waktu sekitar 9 minggu 10 hari atau sekitar 38 minggu untuk embrio (janin) yang mencapai perkembangan sempurna dan siap untuk dilahirkan. Berikut ulasan terkait perkembangan embrio (embriogenesis) pada manusia:

a. Tahap Fertilisasi


Fertilisasi merupakan proses penyatuan inti sel gamet jantan (sperma) dengan inti sel gamet betina (ovum). Jutaan sel sperma yang masuk ke dalam organ reproduksi betina, hanya akan ada satu sel yang bersatu dengan satu sel telur. Setelah hal itu terjadi maka sel sperma lainnya akan mengalami penghancuran oleh sel – sel darah putih (leukosit). Tahap penyatuan dua inti haploid ini menghasilkan satu sel dengan inti diploid (2n), zigot. Sel inilah yang akan tumbuh dan berkembang menjadi manusia. 

b. Tahap Pembelahan (Cleavage)


Tak lama setelah terbentuk zigot, sel ini akan langsung beranjak ke tahap pembelahan membentuk banyak sel. Pembelahan yang berlangsung ialah pembelahan mitosis yang berlangsung sangat cepat diawli dengan pembelahan dua sel, empat sel, delapan sel, dan seterusnya sampai terbentuk morula (tahap 32 sel). Pembelahan mitosis yang berlangsung pada zigot tidak diikuti dengan pembelahan sitoplasma (sitokinensis), hanya pembelahan inti saja. Sehingga ukuran zigot satu inti dengan morula dengan 32 inti adalah sama. Namun berbeda dengan kasus bayi kembar indentik yang berasal dari satu zigot yang pembelahan mitosisnya mengalami pembelahan sitoplasmanya sehingga sel- sel hasil pembelahannya akan terpisah. 

c. Tahap Blastulasi


Tahap blastulasi ialah tahap pembentukan blastula (bola berongga) dari morula (bola padat). Pada tahap sebelumnya zigot membelah membentuk banyak sel (sampai 32) yang disebut morula. Tahap morula ialah tahap 32 sel – sel zigot yang tersusun padat. Kemudian tiap – tiap sel akan terus melanjutkan tahapan pembelahan dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan hingga mencapai angka 64 sampai 100 sel. Ukuran sel – selnya makin kecil (ukuran bolanya sama). Yang membedakan tahap morula dengan blastula ialah jumlah sel dan terdapatnya rongga pada tahap blastula yang disebut blastosol. 

Advertisement
Terbentuknya blastosol berasal dari sel – sel pada bagian dalam yang membelah menjadi banyak sel dengan ukuran yang semakin mengecil. Rongga blastosol berisikan yolk atau kuning telur sebagai satu – satunya sumber makanan bagi sel – sel blastula untuk tumbuuh dan berkembang. Berbeda dengan hewan ovipar dan ovovivipar yanng memiliki kuning telur yang banyak, kelompok vivipar termasuk manusia memiliki kuning telur yang sangat sedikit. Dan tidak mungkin akan mencukupi kebutuhan sel- sel embrio sampai 38 minggu ke depan. Oleh karena itu, sebelum kehabisan kuning telur maka pada tahap ini (blastula), embrio akan masuk (implantasi) ke dalam uterus (rahim) induk betina. 

Selanjutnya tahap hubungan induk betina dengan embrio akan terjalin melalui pembentukan selaput ekstraembrionik dari dinding endometrium induk betina. Segala kebutuhan embrio akan terpenuhi oleh induk betina melalui hubungan yang terbentuk dalam selaput embrionik (plasenta, amnion, korion, dan alantois) sampai masa pertumbuhan dan perkembangan embrio selesai. Keberadaan embrio di dalam endometrium induk betina akan menghasilkan hormon HCG (Human Chorionic Gonadothropin) yang merangsang induk betina untuk mensekresikan Hormon progesteron untuk memperkuat endometrium). 

d. Tahap Gastrulasi


Tahap gastrulasi merupakan tahap pembentukan gastrula yaitu pembentukan tiga lapisan embrionik pada embrio. Lapisan embrionik merupakan lapisan lembaga yang akan berkembang menjadi organ – organ dalam embrio manusia. Gastrulasi ditandai dengan reorganisasi lapisan sel – sel pada tahap blastula. Sel – sel blastula akan melakukan pergerakan morfogenetik yang sedemikian rupa, hingga memungkinkan sel – sel yang berjauhan pada tahap blastula menjadi sel – sel yang berdekatan pada tahap gastrulasi. Pergerakan sel – sel blastula pada tahap ini diawali dengan gerakan invaginasi atau pelekukan ke dalam. Gerakan ini menyebabkan migrasi sel – sel yang awalnya terletak di luar menjadi tersusun di bagian dalam. Pergerakan sel – sel ini menyebabkan rongga blastosol menghilang, namun terbentuk rongga arkenteron. 

Setelah semua sel berhasil bermigrasi, terbentuk lubang saluran bekas titik invaginasi yang disebut dengan istilah blastopori. Selain gerakan invaginasi, sel- sel tahap blastula ini juga melakukan gerakan evaginasi (melekuk keluar); ingersi (migrasi sel); dan lainnya. Selanjutnya, sel – sel ini telah berhasil dan selesai dalam perjalanannya. Tahap gastrulasi ditandi dengan terbentuknya tiga lapisan embrionik yang akan menentukan nasib embrio tersebut. Masing – masing sel dalam tiap lapisan akan saling menginduksi satu sama lain untuk perkembangan selanjutnya. Tiap sel akan menentukan takdirnya masing – masing. Oleh karena itu pada tahapan ini biasa disebut dengan penentuan nasib (fate map). Tiga lapisan embrionik ini ialah antara lain lapisan ektoderm, lapisan mesoderm, dan lapisan endoderm. 

e. Tahap Neurulasi


Tahap neurulasi merupakan awal dari tahap diferensisi setelah tahap gastrulasi. Pada tahap neurulasi merupakan tahap pembentukan corda saraf (notocord) yang merupakan ciri utama dari hewan vertebrata. Notocorda dibentuk dari interaksi induksi antara lapisan ektoderm dengan lapisan mesoderm di dalamnya. Induksi antar lapisan ini menyebabkan sel – sel ektoderm bergerak, sehingga terbentuk notocorda yang memanjang. Untuk selanjutnya notocorda ini akn berkembang menjadi sistem saraf pusat (perkembangan otak). Intinya tahapan neurulasi diindikasikan dengan terbentuknya lempeng saraf (notocorda) pada lapisan ektoderm. 

f. Tahap Organogenesis


Tahapan organogenesis merupakan tahapan pembentukan organ yang berkembang dari lapisan embrionik yang terbentuk pada tahap gastrula.berikut organ – organ yang berkembang dari lapisan embrionik:

1. Ektoderm yaitu lapisan yang paling luar. lapisan ektoderm akan berkemang menjadi sistem integumen (kulit dan derivatnya), serta penyusun sistem saraf termasuk indera. 
2. Mesoderm yaitu lapisan tengah yang akan berkembang menjadi organ dalam seperti sistem sirkulasi, jaringan ikat, sistem reproduksi, otot, dan lainnya kecuali sistem pencernaan dan pernapasan.
3. Endoderm yaitu lapisan paling dalam. Dari lapisan ini akan terbentuk organ – organ penyusun sistem pencernaan meliputi saluran dan kelenjar pencernaan. Selain itu, sistem pernafasan juga berkembang dari lapisan ini. Anus dan mulut berkembang dari asal yang sama yaitu pada blastopori.

Share :

Facebook Twitter Google+
Back To Top