Belajar Ilmu Pengetahuan Alam

Penjelasan Efek Rumah Kaca (Greenhouse Effect) Lengkap

Penjelasan Efek Rumah Kaca Lengkap - Greenhouse effect atau yang lebih dikenal dengan efek rumah kaca, adalah salah satu penyebab dari pemanasan global yang kian menjadi momok bagi kehidupan masa datang. Efek rumah kaca adalah suatu peristiwa dimana panas bumi tertahan di dalam (tak dapat dikeluarkan, panas yang dihasilkan oleh aktivitas penghuni bumi terpantul dan tertahan di dalam atmosfer), oleh karena itu seperti berada di dalam rumah kaca, yang mana suhunya sangat tinggi. Begitu pula dengan bumi, terjadi peningkatan suhu yang tinggi akibat fenomena ini. Tentu saja ada asap karena ada api, ada sebab ada akibat. Efek rumah kaca  muncul aibat meningkatnya kadar senyawa karbon di atmosfer. Bagaimana hal ini dapat terjadi berikut penjelasannya.

KARBON


Unsur karbon merupakan unsur amat penting bagi semua organisme, unsur ini merupakan penyusun sebagia besar senyawa organik pada organisme. Meski demikian, konsentrasi karbon di atmosfer cukup rendah, sekitar 0,03% dari total unsur yang ada di udara. Senyawa karbon di atmosfer dan biosfer bumi silih berganti melalui suatu aliran (siklus) yang kembali dari komponen abiotik ke komponen biotik dan sebaliknya. 

Siklus karbon amat penting dalam suatu kehidupan dalam suatu ekosistem maupun biosfer. Senyawa karbon di atmosfer terdapat dalam bentuk karbondioksida dan karbonmonoksida yang merupakan hasil pembakaran. Namun, seiring dengan meningkatnya jumlah manusia, terjadi peningkatan konsentrasi senyawa karbon di atmosfer yang merupakan akumulasi dari kegiatan manusia. Peningkatan konsentrasi senyawa karbon di atmosfer nyatanya membawa dampak buruk bagi kehidupan.

AKIVITAS MANUSIA


Banyak aktivitas manusia yang menghasilkanlimbah berupa gas yang mengotori udara. Hal ini dimulai sejak revolusi industri berlangsung. Penggunaan bahan bakar fosil dan juga batang pohon yang berlebih meningkatkan konsentrasi karbondioksida di atmosfer. Peningkatan konsentrasi karbondioksida semakin meningkat seiring dengan pertambahan populasi manusia. Saat ini, konsentrasi CO2 di atmosfer sekitar 360ppm (14% dari revolusi industri). Senyawa CO2 dibutuhkan oleh tumbuhan untuk berfotosintesis. 

Advertisement
Namun, praktek ilegal logging serta konversi hutan menjadi perumahan atau sebgainya membuat pengurangan jumlah vegetasi tumbuhan yang dapat menurunkan kadar CO2 melalui fotosintesis. Oleh karena itu, konsentrasi CO2 tetap tinggi di atmosfer. Senyawa CO2 di atmosfer mampu menyerap radiasi sinar inframerah yang dipantulkan oleh matahari dan memantulkannya ke arah bumi. Dengan demikian, semakin meningkatnya konsentrasi CO2 di atmosfer maka pemantulan panas ke arah Bumi semakin meningkat. Hal ini akan membuat suhu bumi semakin panas. Simplenya, senyawa CO2 menyebabkan panas bumi tertahan di dalam, peristiwa ini disebut dengan efek rumah kaca. 

Hubungan peningkatan suhu dengan peningkatan senyawa karbon

Meningkatnya konsentrasi CO2 di atmosfer memiliki korelasi dengan peningkatan suhu Bumi. Sejumlah penelitian menunjukkan kenaikan konsentrasi CO2 sebanyak duakali lipat menyebabkan peningkatan suhu Bumi sekitar 2 derajat celcius. Kenaikan suhu Bumi ini dapat menyebabkan hal buruk, yakni menyebabkan pencairan es di daerah kutup. Dengan demikian, akan meningkatkan permukaan air laut sekitar 100m. 

Hal ini akan menyebabkan daratan akan terendam, terutama daratan rendah. Dengan demikian, banyak kehidupan terancam akibat perubahan iklim ini. Gunung- gunung es di kutub mencair akan engancam kelestarian biota pada biosfer kutub, seperti beruang kutub, dan lain- lain. Selain itu, kenaikan permukaan air laut akan merendam daratan sehingga akan merusak beberapa habitat suatu organisme. 

Permasalahan ini timbul akibat penggunaan bahan bakar fosil serta tumbuhan yang berlebih sehingga menimbulkan emisi karbon yang berlebih di atmosfer. Pemanasan global yang berlangsung pada abad 21 ini merupakan akumulasi dari penggunaan emisi karbon yang berlebih pada ratusan tahun yang lalu (revolusi industri) sampai sekarang, dan diprediksikan masih berlangsung untuk ratusan tahun yang akan datang, sehingga akan berimbas pula pada generasi penerus. 

Share :

Facebook Twitter Google+
Back To Top