Belajar Ilmu Pengetahuan Alam

Pembentukan Sel Darah Pada Sumsum Tulang dan Embrio (Eritropoesis)

Pembentukan Sel Darah Pada Sumsum Tulang dan Embrio (Eritropoesis) - Sel darah merah merupakan komponen sel darah yang memiliki presentase paling banyak. Setiap sentimeter kubik (cm3) darah manusia mengandung 5-6 juta sel ini dan sekitar 25 triliun sel dalam 5 L darah dalam tubuh manusia. Sel tersebut bertanggung jawab dalam pengangkutan oksigen dari sistem respirasi ke seluruh sel tubuh. Namun, sel yang begitu berguna ini tidak memiliki inti sel dan mitokondria. Hal ini merupakan penyesuaian terhadap fungsi sel darah merah itu sendiri. Sel darah merah mengandung 33% senyawa hemoglobin, suatu protein yang berperan dalam pengikatan oksigen. Hemoglobin mengikat oksigen dengan membentuk senyawa oksi-hemoglobin. Selain itu, hemoglobin juga akan mengikat limbah karbon dioksida dengan membentuk karbamino-hemoglobin, namun hanya sedikit karbondioksida yang diikat oleh hemoglobin. Sebagian besar karbondioksida dibawa oleh plasma darah dalam bentuk ion bikarbonat (HCO3-). Ikatan karbonmonoksida dengan hemoglobin membentuk karboksihemoglobin, memiliki ikatan yang lebih kuat dan menetap dibanding dengan oksigen. Oleh karena itu akan mengganggu proses pengangkutan oksigen ke dalam tubuh. Ukuran sel darah merah sangat kecil, sel darah merah memiliki diameter sekitar 12µm (1µ= 10-6m). Dengan ukuran yang sangat kecil ini akan memaksimalkan pengikatan oksigen. Semakin kecil ukuran sel darah merah maka akan semakin banyak oksigen yang dapat diangkut. Sel darah merah memiliki bentuk bikonkaf, mencekung pada bagian tengah yang membuat luas permukaan sel meningkat.

Keabsenan nukleus pada sel membuat sel darah merah kehilangan kemampuan dalam bereproduksi. Pembentukan sel darah merah terjadi melalui proses eritropoesis yang berlangsung di dalam sumsum tulang. Sel ini memiliki masa hidup yang pendek, sekitar 120 hari, maka sel akan beredar di dalam pembuluh darah, kemudian dirombak oleh makrofag.

Advertisement

Pematangan Sel Darah Merah


Pembentukan sel darah merah dipengaruhi oleh hormon eritropoetin. Eritropoesis merupakan salah satu dari proses hematopoesis. Sel darah memiliki sel dasar yang sama, sel pluripoten, yang bersifat multipoten sel yaitu kemampuan untuk membelah dan dapat berdiferensiasi menjadi sel jenis lain. Pluripoten membentuk dua jenis sel yang juga memiliki sifat multipoten, limpoid, dan mieloid. Kelompok limpoid merupakan kelompok yang bermigrasi ke organ limpa, sedang kelompok mieloid berada tetap di dalam sumsum tulang. Kelompok mieloid membelah dan berdiferensiasi menjadi sel-sel baru. Eritroblas merupakan sel bakal pembentuk sel darah merah (eritrosit) yang memiliki ukuran besar dan masih memiliki inti sel.

Pematangan meliputi proses pembentukan hemoglobin, enukleasi yang berukuran kecil dan berbentuk bikonkaf.  Selama proses pematangan eritrosit mengalami perubahan. Volume (ukuran) sel berkurang, anak inti mengecil, dan kromatik makin memadat kemudian pada akhirnya inti didorong ke luar sel. Diameter sel berkurang, pengurangan jumlah poliriosom, dan menghilangnya mitokondria, terakhir terjadi peningkatan jumlah hemoglobin. Hormon eritropoetin, zat besi, asam folat, dan vitamin B12 sangat penting dalam pembentukan eritrosit. Hormon eritropoetin dhasilkan oleh kelenjar ginjal, hormon ini akan merangsang mRNA untuk mensintesis protein Globin yang merupakan unsur penyusun hemoglobin. Pematangan sel darah merah berlangsung sekitar 10 hari untuk siap diedarkan ke seluruh tubuh. Sel darah merah akan beredar di dalam sistem sirkulasi selama 120 hari, sel-sel yang tua akan dihancurkan (dimakan) oleh sel darah putih (makrofag) yang berlangsung di dalam hati. Perombakan sel darah merah akan menghasilkan cairan empedu yang disimpan dalam kantung empedu di hati dan sangat penting dalam pencernaan lemak.

 

Tempat Sintesis Eritrosit


Eritrosit tidak mampu membelah diri, memiliki masa hidup yang pendek, sehingga setelah 120 hari, sel ini akan mati dan akan digantikan oleh sel-sel darah merah baru. Untuk melakukan pembentukan sel darah, terdapat sel pluripoten yang akan bekerja di area tersebut. 

Pada awal perkembangan manusia, pembentukan sel darah merah berlangsung di dalam kantung telur. Setelah terbentuk organ hati dan limfa, organ tersebut menjadi organ utama dalam pembentukannya sel darah merah. Setelah terbentuknya rangka pada janin, proses pembentukan sel darah merah dan sel darah merah lainnya berlangsung disini sampai seumur hidupnya.

Sumber:

http://www.dokterkreatif.com/2014/11/mengetahui-proses-pembentukan-sel-darah-merah-eritrosit.html
Junquiera, L.C. 1998. Histologi Dasar. EGC. Jakarta

Share :

Facebook Twitter Google+
Back To Top