Belajar Ilmu Pengetahuan Alam

Alat-Alat Ekskresi pada Manusia dan Fungsinya

Alat-Alat Ekskresi pada Manusia dan Fungsinya - Organ-organ ekskresi pada manusia menunjukan suatu kerjasama dalam menjaga kesimbangan tubuh dalam ekskresi (pengeluaran) limbah metabolisme dan mengatur kestabilan tubuh. Manusia mengeluarkan limbah bernitrogen dalam bentuk urea. Perombakan protein menghasilkan amonia yang sangat beracun bagi tubuh, oleh sel-sel di dalam hati amonia akan diubah menjadi senyawa yang 100.000 kali lebih ramah dibanding amonia. Tak hanya itu, limbah respirasi sel berupa karbondioksida juga bersifat toxic bagi tubuh. Dan beberapa metabolisme lain yang menghasilkan limbah yang harus dibuang melalui organ yang berbeda-beda. Maka untuk lebih jelasnya,  mari kita lihat pembahasannya.

 

GINJAL (REN)


Ginjal menghasilkan urin dan mengatur komposisi darah. Manusia memiliki sepasang ginjal yang menjalankan fungsi sebagai pabrik urin, terdapat di daerah pinggang belakang. Jutaan nefron (sekitar satu juta), unit pembentuk urin, terkumpar di daerah korteks-medula ginjal. Arteri renal, pembuluh darah yang masuk ke ginjal, membawa darah dari jantung k dalam ginjal. Masing-masing nefron tersusun atas glomerulus yang merupaka kapiler darah; yang dikelilingi oleh kapsula bowman (berbentuk seperti cawan); dan diteruskan dengan tubulus proksimal; lengkung henle; tubulus distal; dan tubulus kolektivus (pengumpul). Darah mengandung senyawa makromolekul seperti protein, sel darah; dan mikromolekul (air, mineral vitamin, glukosa, dan asam amino). Darah memasuki glomerulus melalui arteri aferen, pada saat ini proses filtrasi berlangsung. Arteri eferen merupakan pembuluh kapiler pada glomerulus yang memiliki diameter yang kecil, dengan demikian akan membuat senyawa-senyawa mikromolekul mampu menembus dinding kapiler masuk ke kapsula bowman. Filtrat yang masuk ke kapsula bowman disebut dengan urin primer yang masih mengandung akan zat-zat yang berguna bagi tubuh, seperti glukosa, asam amino, mineral atau vitamin. Urin primer akan masuk dan mengalir di sepanjang tubulus. Di tubulus proksimal dan lengkung henle, zat-zat yang masih dibutuhkan pada urine primer akan direabsorpsi. Zat-zat tersebut antara lain, glukosa, garam mineral seperti NaCl, Kalium, air. Kadar penyerapan zat tersebut akan disesuaikan dengan kadar zat tersebut dalam tubuh, bila kadar dalam tubuh kurang, maka zat tersebut kan diserap sampai mancapai titik kadar normal. Namun apabila kadar dalam tubuh sudah lebih dari normal, maka senyawa tersebut tidak akan diserap. Seperti pada penderita diabetes, kadar gula dalam darah cukup tinggi sehingga glukosa di dalam urine primer tidak akan diserap lagi dan akan dibuang bersama urin. Selain menyerap zat, pada daerah tubulus proksimal dan lengkung henle juga mensekresikan senyawa-senyawa yang berlebih seperti amonia, urea, atau garam-garam lain. Penyulingan yang dilakukan oleh tubulus proksimal dan lengkung henle menghasilkan urine sekunder yang akan diteruskan melewati tubulus distal.  Augmentasi melengkapi proses produksi urin, terjadi di sepanjang tubulus distal. Urine sekunder dari reabsorpsi tubulus proksimal dan lengkung henle akan mengalami penyulingan lebih lanjut sehingga benar-benar diperoleh urine yang sesungguhnya. Di dalam distal, urine sekunder akan direabsorpsi kandungan airnya yang dipengaruhi oleh hormon ADH (AntiDiuretik Hormon) yang dihasilkan kelenjar hipofisis bagian belakang (posterior). Selain itu, sel epitelium tubulus distal akan mensekresikan sejumlah garam mineral, dan mengatur pH urin. Zat warna, urobilin, hasil perombakan eritrosit di hati, ditambahkan pada urine di area distal. Urine sesungguhnya terbentuk dan akan dialirkan ke tubulus pengumpul,seterusnya melalui rongga ginjal (pelvis), ureter, dan ditampung sementara dalam kantung urin (vesica urinaria) sebelum dibuang ke luar tubuh melewati saluran uretra.  

Advertisement

Hati (Hepar/Liver)


Hati atau liver atau dikenal juga dengan hepar terletak di rongga perut sebelah kanan dibawah rongga dada. Hati merupakan kelenjar pencernaan dan juga sebagai organ penyaring racun dalam tubuh. Selain itu, hati menyusun sistem ekskresi yang akan mengeluarkan limbah nitrogen dan juga hasil perombakan eritrosit.

Sebagai organ detoksifikasi, hati memerankan fungsi yang sangat penting. Hati mensortir kadar makanan di dalam tubuh untuk sebelumnya diedarkan. Di dalam hati protein dari sistem pencernaan akan dirombak menjadi asam amino. dari proses ini akan dihasilkan senyawa beracun berupa amonia (NH3). Oleh hati senyawa ini akan diubah menjadi seyawa amonium (NH4+) yang memiliki kadar yang lebih rendah tingkat ketoksikannya. Amonium masih bersifat toxic, selanjutnya akan diubah menjadi urea, yang lebih ringan kadar racunnya. Kemudian urae akan dikirim ke ginjal untuk dibuang melaui pembuluh darah.

Fungsi kedua dalam ekskresi, hati meruapakan tempat perombakan sel darah merah (eritrosit) yang sudah tua. Sel-sel makrofag (leukosit) akan memfagosit (memakan) sel eritrosit tersebut menjadi penyusun-penyusunnya. Sel eritrosit terpecah menjadi penyusunya yaitu, heme; zat besi; dan protein globin. Dari ketiga senyawa tersebut, heme yang akan dirobak pada tahap lanjut menjadi senyawa bilirubin dan biliverdin yang akan disimpan dalam kantung empedu memjadi garam empedu. Bilirubin akan diubah menjadi urobilin (kekuningan) yang akan ditambahkan pada feses dan urin. Sedangkan biliversin (kehijauan) dalam garam empedu akan disekresikan ke usus dua belas jari untuk pencernaan lemak.

 

Kulit (Integumen)


Kulit beserta derivatnya tersusun sebagai suatu sistem integumen. Kulit manusia adalah bagian terluar dari tubuh yang membatasi dari lingkungan serta berperan sebagai pertahanan pertama dalam melawan infeksi patogen, melindungi dari ancaman mekanis. Kulit tersusun atas sel epitel pipih yang rapat dan berlapis-lapis. Lapisan penyusun kulit dibedakan menjadi tiga lapisan utama yaitu.

Lapisan Terluar – Epidermis

Pada epidermis terdapat pori-pori yang merupakan muara keluarnya keringan dari kelenjar keringat. Epidermis merupakan lapisan kulit ari yang sering mengelupas. Lapisan ini tersusun atas beberapa lapis (stratum) yang dibedakan menjadi:

1.    Lapisan korneum, merupakan lapisan paling luar. Tersusun atas sel-sel yang mati yang sering mengelupas. Ketika sel-sel ini terkelupas aka akan digantikan dengan lapisan yang dibawahnya.
2.    Lapisan lusidum, lapisan di bawah korneum yang meiliki sel-el yang masih hidup dan telah memiliki pigmen. Lapisan kulit ini akn menggantikan lapisan korneum ketika mengelupas.
3.    Lapisan granulosum, pada lapisan ini terdapat sel-sel melanosit yang mengandung pigmen melanin (hitam). Sel-sel epidermis yang baru akan mengalami pigmentasi pada lapisn ini kemudian akan naik ke atas menggantikan lusidum.
4.    Lapisan germinativum, merupakan lapisan basal dari lapisan epidermis, tersusun atas selapis sel epitel yang aktif mengadakan pembelaha sel secara mitosis yang bertujuan untuk regenerasi sel-sel yang telah mengelupas.

Lapisan tengah – Dermis

Pada lapisan ini memiliki daerah yang lebihluas dibanding epiderms. Di dalam lapisan ini mengandung banyak pembuluh darah; saraf; sel reseptor; dan juga kelenjar (minyak dan keringat).

Lapisan terdalam – Hipodermis

Disebut juga jaringan subkutan. Karena pada lapisan ini, tersimpan sel-sel lemak (adiposit) yang menyimpan kelebihan lemak dalam tubuh.

Kulit memegang beberapa fungsi penting dalam tubuh. Dalam fokus sistem ekskresi, kulit berfungsi utuk mengeluarkan keringat sebagai suatu mekanisme untuk menjaga keseimbangan ion dan suhu di dalam tubuh. Keringat diprodusi di dalam kelenjar keringat yang terdapat di lapisan dermis. Keringat mengandung air dan beberapa garam. Selain itu kulit berfungsi dalam pengubahan provitamin D menjadi vitamin D yang sangat mempengaruhi pertumbuhan tulang.

 

PARU-PARU (PULMO)


Manusia memiliki sepasang paru-paru terdapat di dalam rongga dada. Paru-paru kanan memiliki tiga lobus sedang paru-paru kiri hanya terdapat dua lobus, hal ini karena adanya jantung pada rongga dada sebelah kiri. Paru-paru terbungkus oleh selaput tipis, pleura, yang melindungi paru-paru. Di dalam paru-paru terdapat banyak gelembung-gelembung udara temat pertukaran gas, alveolus. Dalam sistem ekskresi paru-paru berperan sebagai tepat pegeluaran karbondioksida yang merupakan limbah hasil respirasi seluler. Sebagian besar karbondioksida diangkut dari dalam sel oleh plasma darah dalam bentuk senyawa asam bikarbonat. Sedang sebagian kecilnya terikat dengan hemoglobin di dalam eritrosit. Sesampainya karbondioksida di dalam kapiler alveolus, senyawa ini akan didifusikan keluar tubuh dan diteruskan ke saluran pernapasan untk dibuang ke lingkungan melalui lubang hidung.

Sumber:

Campbell, N.A. dkk. 2003. Biologi Jilid III. Erlangga. Jakarta.

Share :

Facebook Twitter Google+
Back To Top