Belajar Ilmu Pengetahuan Alam

Penjelasan Sistem Pernapasan pada Reptil Secara Lengkap

Penjelasan Sistem Pernapasan pada Reptil Secara Lengkap - Berbeda dengan kelompok amphibi yang menghabiskan hidupnya dengan migrasi di dua habitat, perairan dan daratan, kelompok reptil hidup sepenuhnya di daratan. Meski ditemukan beberapa kelompok reptil yang menempati perairan dalam mencari sumber makanan, mereka tetap akan ke daratan untuk berpijah (berkembangbiak). Tidak adanya pengaturan suhu pada tubuh reptil membuat suhu tubuh reptil berubah-ubah mengikuti perubahan suhu lingkungan. Oleh karena itu Reptil tergolong hewan berdarah dingin (poikiloterm), seperti pada kelompok ikan dan amphibi. Reptil sering berjemur di atas bebatuan atau pasir yang kering di bawah terik matahari guna mengatur panas tubuh untuk menjaga kestabilan fungsi kerja organ tubuh.

Sebagian besar kelompok reptil merupakan predator (karnivora) yang memiliki metabolisme tinggi dalam pemburuan mangsa. Tubuh reptil ditutupi oleh kulit yang tebal, bertanduk atau berkeratin, suatu adaptasi hidup di tempat daratan untuk mencegah kehilangan air melalui penguapan oleh udara. Hidup bebas di daratan menguntungkan bagi reptil karena mendapat suplai oksigen langsung dari udara. Sistem pernapasan reptil sama seperti vertebrata daratan lainnya yaitu menggunakan paru-paru. Organ yang sangat adaptif bagi hewan daratan dimana udara membuat kehilngan banyak air (penguapan), sedangkan pernapasan membutuhkan kondisi yang lembab. Oleh karena itu, sistem pernapasan hewan daratan tersimpan di dalam tubuhnya. Sistem pernapasan dengan paru-paru memperantarai masuknya oksigen ke dalam tubuh, selanjutnya pengedaran akan diserahkan oleh sistem peredaran darah.

Sistem paru-paru berbeda dengan sistem trakea. Sistem trakea mengadakan percabangan ke seluruh tubuh dan terjadi pertukaran gas secara langsung, paru-paru hanya bercabang di satu lokasi. Selanjutnya, gas akan dibawa oleh sistem sirkulasi (peredaran darah). Paru-paru mempunyai jaringan kapiler yang sangat padat terletak persis di bawah sel-sel epitel. Pengecualian pada kura-kura (Ordo Testudinae) dan ular laut (Ordo Squamata). Kura-kura dan penyu memiliki struktur tubuhnya yag dibatasi oleh tempurung yang kaku dan keras, hal ini memuat proses pernafasan dengan paru-paru mengalami gangguan (tidak maksimal). Sehingga kura-kura akan menggunakan alternatif pernapasan yang dibantu oleh epitel mulut dan anus yang lembab sebagai alat pernapasan lainnya untuk memaksimalkan pertukaran gas. Selain itu pertukaran gas melalui udara dan kulit akan menyuplai oksigen bagi penyu ketika mengarungi samudra atau berada di perairan. Sedangkan pada golongan ular laut, karena sebagian besar hidupnya berada di perairan (mencari makan), pernapasan menggunakan paru-paru tidaklah menjadi pilihan yang tepat. Untuk mencukupi kebutuhan akan oksigen, ular laut yang memiliki kulit lembab, menjadi alternatif alat pernapasan ular laut selama di perairan.
Advertisement

Reptil memiliki paru-paru yang lebih kompleks. Paru-paru reptil memiliki perlipatan-pelipatan (alveoli) yang memperluas wilayah pernapasan. Sebagian besar reptil memiliki dua paru-paru yang berkembang dalam rongga dada (kanan-kiri), namun sebagaian besar kelompok ular hanya paru-paru kanan yang berkembang, sedang paru-paru kiri mereduksi (kecil) atau bahkan tidak berkembang. Pernapasan dibantu oleh gerakan otot-otot intercostae (tulang rusuk), dan reptil tidak memiliki diafragma. Udara masuk melalui lubang hidung (nostril), kemuadian trakea, dan ke paru-paru. Terdapat selaput tipis pada lubang hidung dan ujung trakea yang akan melingdungi masuknya air ketika reptil di dalam perairan.

Mekanisme Pernapasan


Pernapasan dibantu oleh gerakan rongga dada. Sebagian besar pengaturan pernapasan udara (ventilasi) dibantu oleh otot intercostae. Kontraksi otot intercostae menyebabkan rongga dada melebar, sehingga volume udara meningkat namun tekanan udara mengecil. Perbedaan tekanan di dalam rongga dada dengan udara akan membuat udara di lingkungan terpompa masuk ke dalam tubuh, mengalir masuk melalui lubang hidung, laring, trakea, lalu ke paru-paru. Dinding alveoli reptil sama seperti pada mamalia, dikelilingi oleh jaringan pembuluh kapiler yang siap mengadakan pertukaran gas. Oksigen dan karbondioksida berdifusi di alveoli, oksigen dari udara diikat oleh hemoglobin dalam sel darah, sedang karbondioksida berdifusi dari dalam sel darah ke luar menuju alveoli dan melalui saluran permapasan di buang melalui lubang hidung. Eksipirasi ni terjadi karena gerakan otot intercosta berelaksasi (mengendur) yang menyebabkan rongga dada mengecil sehingga tekanan yang besar ini mendorong keluarnya karbondioksida. Pada kelompok Crocodilia (buaya) selain dibantu intercostae muscle, pernapasan dibantu oleh otot-otot visera (hati). Otot-otot ini berhubungan dengan tulang rusuk, sehingga ketika otot ini berkontraksi, akan mendorong rusuk ke depan yang menyebabkan udara masuk ke dalam tubuh dan sebaliknya, gerakan yang ditimbulkan otot-otot visera ini dapat dibayangkan seperti gerakan menarik piston. 

Sumber:

Campbell, N.A. dkk. 2003. Biologi Jilid II. Erlangga. Jakarta.
Wyneken, J. 2001. Respiratory Anatomy – Form andFunction in Reptiles. Florida Atlantic University. Florida, USA
http://honorsbiologyp6.wikispaces.com/Reptiles+-+Gas+Exchange+and+Circulation
http://loretocollegebiology.weebly.com/gas-exchange-in-amphibians-reptiles-birds-and-insects.html

Share :

Facebook Twitter Google+
Back To Top